PASURUAN – Pemerintah Kabupaten Pasuruan terus mencari cara untuk meningkatkan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Pemanfaatan teknologi dan penguatan bank sampah menjadi bagian dari upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan mendorong pengelolaan sampah tidak hanya mengandalkan TPA. Pemilahan dan pengolahan sejak dari sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi timbunan sampah.
Berdasarkan laporan Radar Bromo pada Juni 2026, timbunan sampah di Kabupaten Pasuruan mencapai sekitar 428.850 ton per tahun. Namun, tingkat pengurangan sampah disebut meningkat dalam lima tahun terakhir, dari 8,9 persen menjadi 22 persen.
Bank Sampah Jadi Bagian Pengelolaan dari Hulu
Penguatan bank sampah menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menangani sampah dari tingkat masyarakat.
Melalui bank sampah, warga dapat memilah sampah sejak dari rumah sebelum kemudian disetorkan untuk dikelola. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali, sementara residu yang tersisa diteruskan ke fasilitas pengolahan atau TPA.
Radar Bromo sebelumnya mencatat bahwa keberadaan bank sampah terus didorong di wilayah Kabupaten Pasuruan. Pada 2022, lebih dari 200 desa telah memiliki bank sampah dari total 365 desa yang ada saat itu.
Konsep tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi beban TPA, tetapi juga membuka peluang agar sampah memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Teknologi Pengolahan Sampah Mulai Didorong
Selain bank sampah, Pemkab Pasuruan juga mulai menyiapkan pemanfaatan teknologi dalam pengolahan sampah.
Salah satunya melalui rencana penerapan metode Refuse Derived Fuel (RDF). DLH Kabupaten Pasuruan menyiapkan TPA Wonokerto di Kecamatan Sukorejo sebagai lokasi proyek percontohan sebelum teknologi tersebut dipertimbangkan untuk diterapkan di TPA Kenep, Kecamatan Beji.
RDF merupakan metode pengolahan sampah yang dapat menghasilkan bahan bakar alternatif dari limbah padat yang memenuhi kriteria tertentu. Penerapannya masih membutuhkan kajian mengenai efektivitas dan biaya operasional.
Di sisi lain, pengelolaan berbasis masyarakat tetap menjadi bagian penting. Pengembangan bank sampah dinilai dapat membantu mengurangi sampah sejak dari sumbernya sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.
Dengan kombinasi pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan teknologi pengolahan, Kabupaten Pasuruan berupaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan volume sampah sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali limbah yang masih memiliki nilai guna.










