Beranda / Technology / Dorong Hilirisasi Riset Nasional, ITS Resmikan Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berbasis Proses Hidrotermal

Dorong Hilirisasi Riset Nasional, ITS Resmikan Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berbasis Proses Hidrotermal

KAYONA PASUARUAN – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) secara resmi meresmikan Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berkelanjutan pada Rabu (30/9/2026). Fasilitas riset ini dirancang khusus untuk mengakselerasi teknologi pengolahan aspal buton (asbuton) dari skala laboratorium menuju skala industri komersial.

Laboratorium tersebut difokuskan pada peningkatan efisiensi pemisahan senyawa bitumen dari kandungan mineral alami asbuton. Menggunakan metode rekayasa hidrotermal yang dikembangkan secara mandiri oleh tim peneliti ITS, tingkat efisiensi pemisahan bitumen dilaporkan mampu mencapai angka lebih dari 95 persen.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menegaskan bahwa peresmian laboratorium ini merupakan tonggak strategis dalam perjalanan riset perguruan tinggi untuk mengoptimalkan potensi kekayaan alam nasional.

“Keberadaan fasilitas ini menjadi tonggak perjalanan riset anak bangsa di Kampus ITS,” ujar Bambang saat memberikan sambutan resmi.

Dukungan LPDP dan Perjalanan Evolusi Metode Ekstraksi

Pengembangan laboratorium ini mendapatkan sokongan dana dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI melalui skema LPDP Investasi. Pendanaan difokuskan untuk mengawal transisi hasil riset dari skala laboratorium (bench scale) menuju skala percontohan (pilot plant) hingga skala industri hulu-hilir.

Riset pemisahan asbuton di ITS dipimpin oleh dosen Departemen Teknik Kimia, Susianto, yang telah mendedikasikan penelitian ini sejak 2006. Secara historis, rekayasa teknologi pengolahan asbuton di ITS mengalami beberapa tahapan evolusi:

  1. Ekstraksi Konvensional (2006): Menggunakan pelarut hidrokarbon seperti kerosin, minyak tanah, dan pertasol. Namun, metode ini belum mampu memisahkan bitumen secara presisi sesuai standar industri.
  2. Hot Water Process (2009): Mengintegrasikan tiga fase pemisahan menggunakan hidrokarbon dan larutan kimia khusus sebagai sealing agent guna mencegah bitumen yang terpisah kembali menyatu dengan mineral. Namun, metode ini terkendala durasi proses digesting yang memakan waktu hingga 30 menit.
  3. Pretreatment Hidrotermal: Diterapkan setelah analisis mikroskopis menemukan bahwa karakteristik asbuton berbeda dengan oil sand. Kandungan kapur yang terlapisi aspal menciptakan ikatan antar-molekul yang sangat kuat.

Inovasi Hidrotermal Menghasilkan Base Asphalt Berkualitas Tinggi

Melalui penerapan teknologi hidrotermal sebagai tahap perlakuan awal (pretreatment), ikatan kuat antara bitumen dan mineral kapur berhasil dilemahkan sekaligus melapisi antarmuka (interface) kedua material tersebut.

Pendekatan ini tidak hanya menaikkan efisiensi pemisahan hingga melampaui 95 persen, tetapi juga menghasilkan aspal dasar (base asphalt) murni berkualitas tinggi yang siap dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur jalan nasional secara mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *