KAYONA PASUARUAN – Memperingati Dies Natalis ke-77 Yayasan Kesatuan Bogor, Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kesatuan menggelar Seminar Nasional bertajuk “Inovasi Produk & Branding Kreatif: Strategi UMKM Berdaya Saing Tinggi di Era Artificial Intelligence”. Forum hibrida ini diselenggarakan untuk merumuskan langkah strategis dalam mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal agar mampu memperluas jangkauan pasar hingga tingkat nasional melalui pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Acara yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Yayasan Kesatuan, pejabat Kementerian PPN/Bappenas, Wali Kota Bogor, dinas terkait lintas Kota dan Kabupaten Bogor, pengurus IWAPI, akademisi, serta para pelaku UMKM.
Rektor IBI Kesatuan, Prof. Dr. Bambang Pamungkas, secara resmi membuka seminar dengan mengapresiasi tingginya antusiasme publik. Komitmen tersebut diperkuat oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kesatuan, Prof. Bungaran Saragih, yang menegaskan bahwa penguasaan teknologi AI kini menjadi syarat mutlak untuk membangun daya saing usaha di era digital.
Dukungan pemerintah daerah turut disampaikan oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang menyatakan kesiapan Pemerintah Kota Bogor dalam mendampingi pelaku UMKM lokal agar mampu naik kelas dengan memanfaatkan adopsi teknologi modern.
Peta Jalan Nasional dan Solusi AI untuk Usaha Kecil
Hadir memberikan keynote speech, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas, Dinar Dana Kharisma, memaparkan peta jalan kebijakan nasional pengembangan UMKM berbasis AI. Ia juga menguraikan posisi strategis program PRO-KESRA Berdaya dalam dokumen perencanaan pembangunan nasional.
Diskusi utama menghadirkan tiga pakar dari berbagai disiplin ilmu dan regulasi:
- Prof. Dr. Ir. Haryanto (IPB University): Membedah materi “Can AI Close the Gap?”. Ia menekankan bahwa teknologi AI berfungsi sebagai alat pendorong utama bagi usaha kecil untuk memangkas kesenjangan efisiensi operasional dengan korporasi besar.
- Dr. Eugenia Mardanugraha (KPPU RI): Mengulas aspek persaingan bisnis dengan menekankan pentingnya keberanian berdisrupsi serta inovasi produk agar UMKM memiliki daya tawar yang kuat di pasar.
- Dr. Leo Aldianto (ITB): Memaparkan materi “Winning the Customer Network”. Ia menegaskan bahwa efisiensi pemasaran tidak selalu memerlukan modal besar, melainkan berfokus pada keterjangkauan, personalisasi layanan, kebermanfaatan, dan keterbukaan komunikasi dengan konsumen.
Melalui sinergi antara pemerintah, akademisi, regulator, dan praktisi industri, IBI Kesatuan mempertegas perannya dalam membangun ekosistem UMKM yang adaptif dan siap bersaing di pasar global berbasis teknologi kecerdasan buatan.










