LAMPUNG – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan EroSlide, alat pemantauan erosi, longsor (sliding), dan deposisi yang bekerja secara terintegrasi dan real-time berbasis Internet of Things (IoT).
Teknologi tersebut dirancang untuk memantau sejumlah parameter lingkungan, mulai dari curah hujan, limpasan permukaan (runoff), infiltrasi, hingga jumlah sedimen.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Nendaryono Madiutomo, menjelaskan bahwa EroSlide dilengkapi berbagai sensor untuk merekam kondisi lingkungan pada lahan miring.
Sensor yang digunakan meliputi sensor curah hujan tipe tipping bucket, sensor beban (load cell) untuk mengukur sedimen, serta sensor aliran untuk menghitung limpasan air.
“Data yang dihasilkan kemudian dikirim dan diolah secara terpusat sehingga dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut, termasuk pemetaan potensi erosi dan longsor,” ujar Nendaryono dalam Diseminasi #7 Forum Diskusi “Seputar Mineral Strategis Indonesia”, Kamis (23/4).
EroSlide telah diuji pada lahan miring dengan kemiringan cukup terjal. Hasil pengujian menunjukkan kemampuan alat dalam merekam data secara kontinu.
Ke depan, BRIN berencana mengembangkan sistem tersebut melalui penambahan sejumlah sensor, seperti sensor kelembapan tanah, pH, dan suhu. Penambahan sensor diharapkan dapat meningkatkan akurasi analisis terhadap kondisi lingkungan.
Nendaryono menyebut teknologi EroSlide berpotensi dikembangkan menjadi sistem peringatan dini longsor. Potensi tersebut berkaitan dengan hubungan antara intensitas erosi dan kemungkinan terjadinya longsor di suatu wilayah.
Menurutnya, data yang akurat menjadi dasar penting dalam memprediksi potensi bencana sekaligus mengidentifikasi nilai ekonomi suatu wilayah.
“Data yang akurat menjadi dasar penting dalam memprediksi potensi bencana serta mengidentifikasi nilai ekonomi suatu wilayah. Sehingga, pembangunan dapat berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Nendaryono menjelaskan bahwa proses pengayaan mineral dan pelapukan tanah di lahan miring dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan kondisi lingkungan.
Erosi air menjadi salah satu faktor yang mempercepat degradasi lahan sekaligus memindahkan material dari wilayah hulu ke hilir.
“Erosi tidak hanya menyebabkan penurunan kualitas tanah di bagian hulu, tetapi juga memicu pengayaan mineral di daerah hilir akibat proses transportasi dan pengendapan material,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa unsur hara tanah, baik makro maupun mikro, rentan mengalami kehilangan akibat erosi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesuburan tanah dan produktivitas lahan.
Melalui pengembangan EroSlide, BRIN berupaya mendukung pemantauan lingkungan berbasis data untuk membantu analisis erosi, pengelolaan sumber daya alam, dan pengembangan teknologi mitigasi bencana.










