Pasuruan – Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBP Jatim) memulai langkah strategis untuk memperkuat identitas budaya di Kabupaten Pasuruan dengan menggelar Praaudiensi Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) pada 10 Desember 2025. Kegiatan ini merupakan persiapan awal untuk menyusun strategi pelaksanaan Program RBD tahun 2026 yang diharapkan mampu memberikan dampak nyata di lingkungan pendidikan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan menyambut baik inisiatif BBP Jatim. Kepala Bidang Pendidikan Dasar, M. Syamsudin, menekankan pentingnya sinergi program ini dengan dunia pendidikan.
“Harapan kami, revitalisasi bahasa daerah ini memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan serta memperkuat identitas budaya peserta didik di Kabupaten Pasuruan,” ujar Syamsudin.
Tantangan Kebahasaan yang Beragam
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan, Tri Krisni Astuti, mengungkapkan tantangan unik di wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Pasuruan memiliki kondisi kebahasaan yang sangat beragam, yang perlu diakomodasi dalam program revitalisasi:
- Daerah Timur: Bahasa Madura sangat dominan. Banyak siswa yang fasih berbahasa Madura tetapi belum menguasai Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa.
- Wilayah Perkotaan: Penggunaan Bahasa Indonesia mendominasi, bahkan sering disisipi bahasa gaul oleh generasi muda.
Menanggapi kondisi ini, Krisni mendesak BBP Jatim agar cakupan program revitalisasi tidak hanya berfokus pada Bahasa Jawa saja, tetapi juga mencakup Bahasa Madura untuk mengakomodasi kebutuhan seluruh masyarakat di wilayah timur Pasuruan.
Kolaborasi Kunci Keberlanjutan Program
Kepala Subbagian Umum BBP Jatim, Dwi Puspa Agustina, menegaskan bahwa kolaborasi aktif dengan pemerintah daerah adalah kunci keberhasilan. BBP Jatim berharap agar program ini tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi benar-benar hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat, terutama generasi muda, demi mewujudkan revitalisasi yang berkelanjutan dan terukur pada tahun mendatang. (Sls)










