PASURUAN – Film terbaru garapan sutradara kondang Hanung Bramantyo, Gowok: Kamasutra Jawa, telah memicu perdebatan panas sejak diumumkan. Jauh dari sekadar drama erotis biasa, film ini melakukan upaya ambisius untuk menggali kembali sebuah tradisi Jawa yang hampir punah: Gowok, sosok perempuan terhormat yang bertanggung jawab mengajarkan ilmu bercinta dan pemahaman pernikahan kepada pemuda bangsawan.
Berlatar era 1950-an, film ini fokus pada kisah Ratri (diperankan Alika Jantinia dan Raihaanun), yang dipersiapkan menjadi penerus gowok legendaris, Nyai Santi (Lola Amaria). Intrik meledak ketika Ratri muda menjalin kasih terlarang dengan muridnya, Kamanjaya (Devano Danendra), yang berakhir dengan pengkhianatan menyakitkan.
Panggung Balas Dendam Penuh Pesona
Dua puluh tahun kemudian, Ratri—kini berwibawa sebagai Nyai Ratri—dipertemukan kembali dengan Kamanjaya (Reza Rahadian) yang datang membawa putranya. Pertemuan takdir ini membuka jalan bagi Ratri untuk melancarkan balas dendam yang dikemas apik dengan kecerdasan dan ilmu gowok yang ia kuasai.
Film ini dipuji karena visualnya yang memikat. Hanung berhasil menciptakan sinematografi yang indah dengan palet warna klasik dan desain produksi era 1950-an yang otentik, memanjakan mata penonton.
Bukan Sekadar Percintaan: Menguak Emansipasi dan Pendidikan Seks
Meskipun alur ceritanya mengandung intrik percintaan yang memanas, daya tarik terbesar Gowok terletak pada keberaniannya mengangkat isu-isu yang masih tabu di Indonesia:
- Pendidikan Seksualitas: Film ini berupaya memposisikan gowok bukan sebagai prostitusi terselubung, melainkan sebagai guru filosofi cinta dan kepuasan seksual bagi laki-laki sebelum menikah.
- Perlawanan Perempuan: Karakter Ratri merepresentasikan perlawanan dan harapan akan perempuan yang merdeka, yang menggunakan pengetahuan dan seni gowok sebagai kekuatan untuk menuntut keadilan diri.
Penampilan aktor lintas generasi juga menjadi sorotan. Raihaanun khususnya, mendapat pujian karena berhasil membawakan karakter Nyai Ratri yang kompleks—seorang perempuan berwibawa yang menyimpan trauma, namun cerdas memanfaatkan keahliannya sebagai senjata.
KESIMPULAN: Gowok: Kamasutra Jawa adalah drama dewasa yang ambisius, memadukan visual yang indah dengan penampilan aktor yang memukau. Film ini sangat layak ditonton bagi mereka yang mencari tontonan kuat, menantang nalar, dan diselimuti bumbu budaya serta sejarah alternatif.(Sls)










