PASURUAN — Suasana memanas sempat mewarnai aksi penolakan pembangunan Batalyon 15 Marinir TNI AL di Desa Sumberanyar, Pasuruan, Senin (15/12/2025). Ratusan warga, termasuk ibu-ibu dan anak-anak, kembali turun ke jalan menyuarakan kekhawatiran mendalam atas dampak psikologis dari kehadiran markas militer yang terlalu dekat dengan rumah mereka.
Susanto, koordinator aksi, mengungkapkan inti ketakutan warga. “Ketika ada latihan atau aktivitas militer di dekat perkampungan, itu sangat memengaruhi psikologis kami. Kami minta Batalyon baru ini digeser titiknya,” katanya. Warga khawatir akan potensi risiko keamanan dan ledakan yang bisa terjadi selama latihan militer.
Meskipun sempat terjadi dorongan untuk mendekati area proyek, massa akhirnya berhasil ditarik mundur oleh koordinator aksi. Meskipun demikian, warga bertekad untuk terus melancarkan upaya guna menghentikan proyek pembangunan ini, yang mereka klaim telah mengancam hak mereka untuk tinggal dengan tenang dan aman di kawasan tersebut.
Sementara itu, pihak TNI AL melalui PGS Komandan Puslatpur 3 Grati, Mayor Mar. M. Yamin, memastikan bahwa proyek tersebut telah direncanakan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan berada di lahan kosong. Pihaknya menyatakan akan tetap melanjutkan pembangunan yang sudah menjadi program Kemenhan, namun berjanji akan melaporkan perkembangan situasi dan tuntutan warga kepada pimpinan. (Sls)









