Beranda / Nasional / Konflik Perbatasan Memanas: Thailand Desak PBB Bentuk Misi Pencari Fakta Soal Dugaan Ranjau Baru Kamboja

Konflik Perbatasan Memanas: Thailand Desak PBB Bentuk Misi Pencari Fakta Soal Dugaan Ranjau Baru Kamboja

Jenewa, 7 Desember 2025 – Ketegangan di perbatasan Thailand-Kamboja memuncak di forum internasional. Thailand secara resmi mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera membentuk misi pencari fakta independen terkait dugaan pemasangan ranjau darat baru oleh Kamboja di sepanjang perbatasan kedua negara.

Desakan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, pada pertemuan ke-22 Negara-Negara Pihak dalam Konvensi Larangan Ranjau Anti-Personel di Jenewa.

⚖️ Jalan Buntu Bilateral dan Permintaan Intervensi PBB

Menteri Sihasak menyatakan bahwa Thailand telah mencoba “setiap mekanisme bilateral dengan itikad baik” untuk menyelesaikan masalah ranjau tersebut, namun gagal. Puncaknya, ketegangan kembali meningkat bulan lalu setelah empat tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau darat di provinsi perbatasan Si Sa Ket.

“Jika suatu negara pihak dapat menanam ranjau baru dan begitu saja menyangkalnya tanpa konsekuensi, apa yang akan terjadi setelah korban berikutnya?” tanya Sihasak, menekankan urgensi tindakan.

Thailand melihat misi pencari fakta PBB sebagai “cara yang paling adil, paling efektif, dan paling transparan” untuk maju. Sihasak yakin langkah ini akan mendepolitisasi masalah dan menjaga integritas Konvensi Internasional tersebut.


🇰🇭 Kamboja Menolak Keras: “Klaim Tak Berdasar”

Di sisi lain, delegasi Kamboja, yang dipimpin oleh Menteri Senior Ly Thuc, langsung menolak klaim tersebut dalam pernyataan resmi. Kamboja menyebut tuduhan Thailand tentang pemasangan ranjau baru sebagai “klaim yang tidak berdasar” yang justru tidak mendukung perdamaian.

Kamboja mendesak Thailand untuk kembali pada “semangat yang membangun Konvensi ini: Kemitraan, Dialog, dan Komitmen Bersama,” yang berfokus pada perlindungan kehidupan dan pemulihan perdamaian.

“Kamboja menegaskan bahwa forum ini tidak seharusnya menjadi ajang peradilan atau konfrontasi politik, tetapi tetap menjadi ruang bagi negara-negara pihak untuk bekerja dengan itikad baik,” bunyi pernyataan Kamboja, menyerukan resolusi damai dan konstruktif.

📜 Latar Belakang Konflik

Konflik perbatasan ini cukup ironis, mengingat kedua negara baru saja menandatangani pakta perdamaian pada Oktober 2025 di Kuala Lumpur, disaksikan oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Namun, insiden ranjau baru-baru ini membuat Thailand menangguhkan pakta tersebut, memicu kembali permusuhan yang sempat mereda setelah gencatan senjata tanpa syarat disepakati pada 28 Juli 2025. (Sls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *