{"id":189,"date":"2025-12-02T21:28:00","date_gmt":"2025-12-02T14:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/?p=189"},"modified":"2025-12-02T22:29:39","modified_gmt":"2025-12-02T15:29:39","slug":"efek-trump-ruu-pajak-baru-ancam-pangkas-miliaran-dolar-donasi-orang-kaya-siapa-yang-akan-menombokinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/?p=189","title":{"rendered":"EFEK TRUMP: RUU Pajak Baru Ancam Pangkas Miliaran Dolar Donasi Orang Kaya, Siapa yang Akan Menombokinya?"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>WASHINGTON D.C.<\/strong> \u2013 Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak terbaru yang didorong oleh Presiden Donald Trump dikhawatirkan akan memicu guncangan besar dalam dunia filantropi Amerika Serikat. Para ekonom dan pakar akademis memperingatkan bahwa RUU tersebut, yang mengurangi insentif pajak bagi kelompok berpenghasilan tinggi, berpotensi menekan sumbangan dari donatur kaya hingga <strong>miliaran dolar<\/strong> setiap tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Lilly Family School of Philanthropy di Indiana University memperkirakan perubahan aturan ini dapat <strong>memangkas kontribusi filantropi antara USD 4,1 miliar hingga USD 6,1 miliar per tahun<\/strong>. Pemotongan ini disebabkan oleh turunnya manfaat pajak efektif bagi kelompok penghasilan teratas (dari 37% menjadi 35%) dan pengetatan syarat bagi wajib pajak untuk merinci sumbangan mereka.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Donatur Kaya Berkurang, Kelas Menengah Tertekan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Ancaman terbesar yang muncul adalah pertanyaan: <strong>siapa yang akan menutupi selisih kekurangan donasi tersebut?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Meski aturan baru memberi insentif bagi 140 juta wajib pajak yang tidak merinci pajaknya\u2014memungkinkan mereka mengurangi sumbangan tunai hingga USD 1.000\u2014para ahli skeptis bahwa donatur menengah dan bawah mampu menanggung beban filantropi yang ditinggalkan kaum super kaya.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>&#8220;Kontribusi kecil dari jutaan rumah tangga tentu penting, tapi skala sumbangan dari individu dengan kekayaan besar jauh lebih mendominasi,\u201d ujar Elena Patel, Co-director Urban Brookings Tax Policy Center.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Dekan Lilly School of Philanthropy, Amir Pasic, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi <strong>&#8220;berbentuk K&#8221;<\/strong>\u2014di mana orang kaya makin kaya sementara kelas menengah dan bawah kian tertekan\u2014membuat kebiasaan memberi semakin timpang. Tekanan biaya hidup memaksa donatur harian mengurangi pengeluaran, termasuk untuk amal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Waktu Terbatas: Seruan untuk Percepat Donasi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Menyikapi perubahan ini, para ahli pajak mendesak donatur kaya untuk mengambil tindakan cepat. Penasihat kekayaan dari Northern Trust, Robert Westley, menyarankan agar donatur yang berencana menyumbang dalam empat tahun ke depan untuk <strong>mempercepat donasinya ke tahun ini<\/strong> guna memaksimalkan potongan pajak sebelum perubahan berlaku penuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Strategi populer lain, seperti memanfaatkan <em>Donor Advised Funds<\/em> (DAF) atau mendonasikan saham yang telah diapresiasi nilainya, juga menjadi pilihan bagi kalangan berpenghasilan tinggi untuk mengoptimalkan manfaat pajak mereka di tengah ketidakpastian regulasi baru. Masa depan filantropi AS kini berada di tangan para donatur terbesar dan bagaimana mereka menyiasati aturan pajak terbaru ini.(Sls)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WASHINGTON D.C. \u2013 Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak terbaru yang didorong oleh Presiden Donald Trump dikhawatirkan akan memicu guncangan besar dalam dunia filantropi Amerika Serikat. Para ekonom dan pakar akademis memperingatkan bahwa RUU tersebut, yang mengurangi insentif pajak bagi kelompok berpenghasilan tinggi, berpotensi menekan sumbangan dari donatur kaya hingga miliaran dolar setiap tahun. Lilly Family School<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":190,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-189","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-internasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/189","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=189"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/189\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":191,"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/189\/revisions\/191"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/190"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=189"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=189"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kayonnapasuruan.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=189"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}